PENANAMAN NILAI KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA MELALUI PENDIDIKAN KE-PRAMUKAAN

(Sebuah Kajian Literasi dan Pengalaman Pendekatan Ideal Penanaman Nilai Karakter dan budaya Bangsa Dalam Pendidikan Formal)

Oleh : Ahmad Tijani (Ka’ Jany)

Persembahan Untuk HUT Ke 51 Gerakan Pramuka “Satu Pramuka Untuk Satu Indonesia, Jayalah Bangsaku”

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini dunia pendidikan kita sedang gencar menyoroti Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Berbagai media cetak dan elektronik kini banyak memuat pentingnya Budaya karakter bangsa. Berbagai seminar dan gelar wicarapun dilakukan para ahli dan pemuka masyarakat mengenai masalah korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan dan perkelahian yang dilakukan sebagian pemuda kita yang begitu anarkhi kian marak diperbincangkan. Alhasil dari perbincangan dan kupasan media oleh para ahli dan pemuka masyarakat menyimpulkan bahwa pendidikan merupakan salah satu solusi sebagai tindak preventif. pramuka indonesia Bicara Pendidikan Budaya dan Karakter bangsa Undang – undang No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas telah jelas-jelas mengamanatkan dalam pasal 3 yang menyebutkan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis, serta bertanggung jawab”. Dengan melihat pasal 3 UU Sisdiknas telah jelas bahwa tujuan dari pendidikan di Indonesia khususnya telah merumuskan kualitas manusia Indonesia yang mutlak harus dikembangkan disetiap satuan pendidikan.

Pendidikan Kepramukaan sebagai salah satu wadah pembinaan generasi muda yang nota bene Gudep yang berbasis satuan pendidikan sebagai salah satu lini terdepanya juga telah jelas dirumuskan dalam UU No 12 tahun 2010 pasal 1 ayat 4 bahwa “Pendidikan Kepramukaan adalah proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia pramuka melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan”. Gerakan Pramuka dengan kode kehormatannya satya dan dharma pramuka merupakan mutiara, sumber lahirnya nilai nilai karakter positif yang mampu menempatkan pribadinya sebagai insan Indonesia yang seutuhnya. Satya dan dharma pramuka adalah mutiara, apabila mutiara tersebut telah bersemayam dalam hati maka akan menyinari setiap gerak dan langkahnya, karena apa yang bersemayam dalam hati kita itulah yang akan keluar sebagai tindakan dan perilaku. Jika mutiara ini telah tertanam kuat maka akan melahirkan dan membentuk suatu karakter dalam individu.

Pembina pramuka sebagai stakeholder pendidikan kepramukaan hendaknya memahami bahwa praktek penghayatan melalui kegiatan ulang janji merupakan satu hal yang paling inti dan sakral, karena inilah awal yang menentukan keberhasilan dalam rangka pembentukan karakter adik adik kita. Apabila kita gali lebih dalam tentang metode pendidikan kepramukaan sebetulnya banyak cara yang kita tempuh dalam rangka pembentukan karakter yang sesuai dengan jati diri bangsa, namun ada hal lain yang juga sering kita lupakan bahwa kepiawaian,kesungguhan dan ketulusan hati seorang pembina juga memegang peranan penting. Karena ketulusan seorang pembina dapat menimbulkan aura tersendiri yang juga akan mewarnai adik-adik kita. Dalam Pendidikan budaya dan karakter bangsa yang bersumber pada Agama, Pancasila, Budaya dan Tujuan Pendidikan Nasional teridentifikasi 18 Nilai karakter, dan ternyata bila kita cermati dari 18 nilai tersebut juga merupakan bentuk pengamalan satya dan dharma pramuka. Nilai tersebut antara lain : 1. Religius, Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. ( merupakan bentuk pengamalan dharma ke 1. Takwa kepada Tuhan yang maha esa ) 2. Jujur, Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. ( Bentuk pengamalan dharma ke 10. Suci dalam fikiran perkataan dan perbuatan ) 3. Toleransi, Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. ( merupakan bentuk pengamalan dharma ke 1. Takwa kepada Tuhan yang maha esa ) 4. Disiplin, Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. ( Bentuk pengamalan darma ke 8. Disiplin Berani dan setia ) 5. Demokratis, Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. ( bentuk pengamalan darma ke 4. Patuh dan suka bermusyawarah ) 6. Semangat Kebangsaan, Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya ( bentuk pengamalan darma ke 3. Patriot yang sopan dan ksatria ) 7. Cinta Tanah Air, Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. ( bentuk pengamalan darma ke 3. Patriot yang sopan dan ksatria ) 8. Peduli Lingkungan, Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. ( Bentuk pengamalan darma ke 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia ) 9. Peduli Sosial, Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. ( Bentuk pengamalan darma ke 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia ) 10. Tanggung-jawab, Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. ( Bentuk pengamalan darma ke 9. bertanggung jawab dan dapat dipercaya ).

Pramuka sebagai salah satu organisasi yang tetap konsisten dengan karakter bangsa tentu memiliki pola pembinaan yang terstruktur dan berimbang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Gerakan pramuka sebagai suatu gerakan yang telah terbukti dengan konsistensinya akan karakter bangsa akan dapat berhasil mencapai tujuan sebagaimana tercantum dalam UU No.12 tahun 2010 apabila peserta didik diberi kesempatan untuk mengikuti seluruh jenjang dalam pendidikan kepramukaan. Dari uraian di atas jelaslah sudah, jika Kegiatan pramuka apabila kita laksanakan dengan sungguh-sungguh maka Budaya dan Karakter Bangsa akan tetap terpelihara. Dengna demikian sangat mungkin Kegiatan Ke-Pramukaan dimasukkan langsung dalam kegiatan intrakurikuler dalam pendiidkan formal.

B. Rumusan Masalah

Mencermati latar  belakang diatas dan melihat realitas pendidikan kita dewasa ini maka masalah yang timbul adalah :

  1. Pendekatan apa yang paling ideal kita jadikan sebagai wahana Penanaman Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dalam pendidikan formal.
  2. Apakah Pendidikan Kepramukaan adalah satu-satunya pendekatan Penanaman Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa paling Ideal.
  3. Apakah Pendidikan Ke-Pramukaan bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan formal sebagai salah satu Mata Pelajaran Wajib bagi setiap siswa di Lombok Timur.

C. Tujuan Kajian

Tujuan kajian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui apakah strategi yang paling ideal yang dugunakan untuk menanamkan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Lombok Timur.
  2. Untuk mengatahui apakah pendidikan ke-Pramukaan adalah satu-satunya wahana yang paling ideal yang diguanakan untuk menanamkan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Lombok Timur
  3. Untuk mengkaji Apakah Pendidikan Ke-Pramukaan bisa dibuat sebagai Mata Pelajaran / Kegiatan Wajib bagi setiap Siswa di Lombok Timur.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pendidikan Nilai Karakter

 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana  untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik  secara aktif mengembangkan potensi  dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual  keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,  kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan  Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi  peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang  Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,  cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga  negara yang demokratis serta bertanggung  jawab.

Beberapa fungsi pendidikan (diadopsi dari  Academic Duty, karya Donald Kennedy,  1999) adalah to teach, to mentor,to discover,to  publish,to reach beyond the wall,to change,to  tell the truth,to inform,dan character building.  Sementara itu, konsep pendidikan karakter  dapat dijabarkan sebagai  Character  education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within (David Elkind & Freddy Sweet, Ph.D., 2004, dalam arief rachman, 2011).

Orang sering terjebak, pendidikan karakter itu diterjemahkan hanya sebagai sopan santun. Padahal lebih dari itu. Yang mau dibangun adalah karakter-budaya yang menumbuhkan kepenasaranan intelektual (intellectual curiosity) sebagai modal untuk mengembangkan kreativitas dan daya inovatif yang dijiwai dengan nilai kejujuran dan dibingkai dengan kesopanan dan kesantunan.

Karakter adalah perilaku yang dilandasi oleh nilainilai berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika. Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil.

Pendidikan karakter saat ini menjadi fokus program Kementerian Pendidikan Nasional. Di setiap kesempatan Menteri Pendidikan yang asli Surabaya selalu mengemukakan, agar pendidikan karakter diberikan sejak usia dini. Mengapa demikian? Karena saat ini banyak kasus yang melibatkan anak negeri ke arah perpecahan bangsa, mulai korupsi, tidak menghargai nyawa orang lain, tidak menghargai orang tua, tidak disiplin, makelar kasus, video porno  serta  kasus  lainnya yang sudah keluar dari karakter Bangsa Indonesia, yang dikenal ramah tamah, gotong royong, menghargai orang lain. Tentu ada yang belum klik dengan proses Pendidikan selama ini, disisi lain untuk membangun karakter bangsa yang beradab jalan yang efektif melaui proses pendidikan.

B. Mengapa Perlu Pendidikan Karakter.

Setiap bangsa mempunyai karakter budaya yang tidak sama. Karakter suatu bangsa bisa mengalami berubahan bisa kearah yang lebih baik bahkan sebaliknya, bahkan bisa hilang sama sekali. Hal ini tergantung bagaimana masyarakat tersebut melindungi atau menjaga karakter budaya yang sudah diberikan oleh nenekmoyangnya.

Pendidikan karekter terdiri dari dua kalimat, yaitu pendidikan dan karakter. Pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Sedangkan karakter yaitu watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan  yang dinyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak. Maka Pendidikan karater yaitu proses pewarisan budaya pada generasi muda untuk membentuk kepribadian sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak.

Pendidikan karakter tertuang dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyebutkan Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung. Sehingga pendidikan karakter sudah menjadi kewajiban yang harus diberikan pada peserta didik dalam segala satuan pendidikan.

Dalam tujuan pendidikan nasional,  pendidikan karakter merupakan gambaran tentang kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh satuan pendidikan, serta menjadi dasar dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa. Pendidikan karakter lebih mudah  diberikan pada usia dini, hal ini akan mudah diterima dan tersimpan dalam memori anak,  akan membawa pengaruh pada perkembangan watak dan pribadi anak hingga dewasa. Menurut Daniel Golemen dalam bukunya Kecerdasan Ganda menyebutkan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan dibutuhkan 80%, sedangkan kecerdasan intektual hanya sebesar 20%. Untuk itu pendidikan karakter akan mudah diberikan  melalui jalur pendidikan, salah satunya adalah pendidika nonformal. Jadi kecerdasan emosional dan sosial lebih membawa dampak pada  perjalanan hidup bahkan karier anak dikemudian hari. Berbagai media bisa digunakan untuk pendidikan karakter.

Dalam Pendidikan budaya dan karakter bangsa yang bersumber pada Agama, Pancasila, Budaya dan Tujuan Pendidikan Nasional teridentifikasi 18 Nilai karakter, Nilai tersebut antara lain :

1.  Religius

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi

Sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4.  Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6. Kreatif

Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari  sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air

Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12. Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/Komunikatif

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14. Cinta Damai

Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara

15.  Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung-jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap

C. Kepramukaan Sebagai  Media Pendidikan Karakter.

Unsur didalam pendidikan nonformal adalah pendidikan kepemudaan. Unsur yang ada di dalam pendidikan kepemudaan adalah Gerakan Pramuka.  Dalam UU No. 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, disebutkan Gerakan Pramuka adalah  organisasi yang dibentuk oleh pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan.Gerakan pramuka merupakan wadah pendidikan generasi muda usia 7 – 25 tahun, yang mempersiapkan anggotanya untuk mempunyai karakter bangsa sesuai dengan dasa darma dan tri satya.

Tujuan dari Gerakan Pramuka untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin,  menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup. Tujuan dari Gerakan Pramuka sejalan dengan fokus pendidikan karakter yang menjadi program utama Kementerian Pendidikan Nasional.

Dalam menanamkan dan menumbuhkan karakter bangsa, dikepramukaan mempergunakan 10 pilar yang  menjadi kode kehormatan. Kode kehormatan mempunyai makna suatu norma (aturan) yang menjadi ukuran kesadaran mengenai akhlak yang tersimpan dalam hati yang menyadari harga dirinya, serta menjadi standart tingkah laku pramuka di masyarakat. 10 pilar tersebut bernama dasa dharma, yaitu

  1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
  3. Patriot yang sopan dan kesatria.
  4. Patuh dan suka bermusyawarah.
  5. Rela menolong dan tabah.
  6. Rajin,terampil dan gembira.
  7. Hemat,cermat dan bersahaja.
  8. Disiplin, berani dan setia.
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya dan
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Dalam mengimplemasikan 10 pilar tersebut, antara anggota  penggalang, penegak dan pandega hingga anggota dewasa disesuaikan dengan perkembangan rohani dan jasmani. Sedangkan untuk  anggota siaga pilar yang digunakan untuk menanamkan pendidikan karakter melalui  Dwi darma, yang berbunyi sebagai berikut “ Siaga itu menurut ayah dan bundanya, serta siaga itu berani dan tidak putus asa”.  Mengingat usia siaga masih senang dengan bermain, maka dalam menanamkan norma pramuka melalui media permainan dan visual serta contoh dari bunda dan ayahdanya.

Setiap item dalam sepuluh pilar  tersebut dijabarkan dalam  satuan kecakapan khusus (SKK) yang menjadi alat  untuk mengetahui perkembangan kemampuan dan keterampilan dalam menerapkan norma-norma yang ada. Bila anggota pramuka usia 11 hingga 25 tahun mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari pilar norma yang ada, tentunya akan menjadi kebanggaan bagi peserta didik itu sendiri. Sedangkan anggota  dewasa menjadi  pembimbing  dan memantau dalam menghayati dan melaksanakan dikehidupan sehari-hari. Tidak setiap anggota dewasa diperbolehkan menjadi pembimbing  langsung anggota pramuka usia 7 s.d 25 tahun, karena pembimbing merupakan harus menjadi contoh bagi adik didiknya. Untuk itu anggota pramuka dewasa yang diijinkan menjadi pembina/pembimbing  sudah menyelesaikan pelatihan kursus pembina pramuka mahir dasar (KMD) serta KML. Dengan harapan adanya persepsi yang sama di seluruh Indonesia tentang tata cara penanaman dan penumbuhan karakter bangsa melalui kepramukaan. Sehingga hasilnya bisa dipertanggung jawabkan.

Pola pembinaan antara anggota usia 7 s.d 10 dengan anggota pramuka usia 21 s.d.25 tahun disesuaikan atau tidak sama. Semakin tinggi usianya semakin kecil keikut serta anggota dewasa untuk mendampingi. Semakin kecil usianya keterlibatan pembina masih besar bahkan adanya yang  90% pembina harus mendampingi, seperti pada anggota pramuka siaga. Untuk itu khusus anggota siaga, panggilan pembina bukan kakak tapi bunda dan ayahda. Hal ini sesuai dengan sistem among yang digunakan dalam salah satu prinsip metode pendekatan di kepramukaan.

Sistem among proses pendidikan kepramukaan bertujuan membentuk peserta didik agar berjiwa merdeka, disiplin dan mandiri dalam hubungan timbal balik antar manusia. Sistem among selalu terimplimentasikan dalam kegiatan pramuka mulai tingkatan anggota siaga hingga dewasa, dengan cara atau pola yang dipergunakan disesuaikan dengan usia peserta didik, sehingga memudahkan dalam menanamkan karakter bangsa dan dapat tersimpan lama dalam memory pikiran. Terdapat 3  prinsip  dalam sistem among, yaitu di depan menjadi teladan, ditengah membangun kemauan dan di belakang mendorong dan memberikan motivasi kemandirian.

Makna yang diatas, untuk anggota siaga ketergantungan ke pembina masih besar sebanyak 90%, sehingga pembina menjadi sentra atau contoh bagi anggota siaga. Sedangkan anggota penggalang tingkat ketergantungan  ke pembina sebesar 60%. Pembina masih menjadi sentra dalam kegiatan pramuka, namun semakin tinggi tingkat penggalang semakin besar tingkat mandiri. Di dalam penggalang ada tiga tingkatan, yaitu mula, trap dan trampil. Ketergantungan pembina semakin kecil pada anggota penegak dan pandega hanya 10 %, karena anggota pramuka penegak dan pandega sudah cukup dewasa utamanya pada pandega, sehingga bisa melaksanakan kegiatan pramuka secara mandiri, pembina hanya berfungsi sebagai motivator dan konsultan program.

Dengan adanya sistem among tersebut, karakter anggota pramuka sudah terpantau  sejak usia 7 tahun dan terus dipantau sampai berhenti menjadi anggota pramuka. Sedangkan  anggota dewasa, untuk memantapkan penanaman karakter melalui jenjang kursus, mulai kursus pembina pramuka mahir dasar dan lanjut hingga jenjang  kursus pelatih pembina pramuka tingkat dasar hingga lanjut.

Bila anggota sudah mencapai tingkatan Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Lanjut (KPL) maka diharapkan sudah mendarah daging norma tentang kepramukaan, sehingga bisa menjadi contoh tauladan di masyarakat.

Dalam Pendidikan budaya dan karakter bangsa yang bersumber pada Agama, Pancasila, Budaya dan Tujuan Pendidikan Nasional teridentifikasi 18 Nilai karakter, dan ternyata bila kita cermati dari 18 nilai tersebut juga merupakan bentuk pengamalan satya dan dharma pramuka. Nilai tersebut antara lain : 1. Religius, Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. ( merupakan bentuk pengamalan dharma ke 1. Takwa kepada Tuhan yang maha esa ) 2. Jujur, Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. ( Bentuk pengamalan dharma ke 10. Suci dalam fikiran perkataan dan perbuatan ) 3. Toleransi, Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. ( merupakan bentuk pengamalan dharma ke 1. Takwa kepada Tuhan yang maha esa ) 4. Disiplin, Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. ( Bentuk pengamalan darma ke 8. Disiplin Berani dan setia ) 5. Demokratis, Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. ( bentuk pengamalan darma ke 4. Patuh dan suka bermusyawarah ) 6. Semangat Kebangsaan, Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya ( bentuk pengamalan darma ke 3. Patriot yang sopan dan ksatria ) 7. Cinta Tanah Air, Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. ( bentuk pengamalan darma ke 3. Patriot yang sopan dan ksatria ) 8. Peduli Lingkungan, Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. ( Bentuk pengamalan darma ke 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia ) 9. Peduli Sosial, Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. ( Bentuk pengamalan darma ke 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia ) 10. Tanggung-jawab, Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. ( Bentuk pengamalan darma ke 9. bertanggung jawab dan dapat dipercaya ). 11. Rasa Ingin Tahu yaitu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar, nilai ini tertanam dalam pola pendidika kepramukaan dimana pendidikan ke-pramukaan dilaksanakan di alam terbuka dengan metode yang menarik dan menantang hal ini disebutkan dalam UU No 12 Tahun 2012 tentang Gerakan Pramuka  dan dipertegas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka. 12 Bersahabat / Komunikatif,  Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. (Nilai ini merupakan pengamalan dasa darma ke 4. Patuh dan suka bermusyawarah), 13. Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara nilai ini merupakan pengamaan dasadarma ke 2. cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, dan ke 4 Patuh dan suka bermusyawarah dengan jiwa kasih sayang sesama manusia dan patuh akan memberikan nunasa berfikir jernis dan bijaksana kepada manusia untuk mementingkan kepentingan orang banyak dan tentu saja mementingkan ketentraman masyatakat, jadi tidak menjadi provokator di tengah masyarakat. Nilai 14. Gemar Membaca, Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. (Nilai ini merupakan pengamalan dasa darma ke 6. Ranjin, trampil dan gembira) dan demikian juga dengan nilai-nilai yang lain, akan tertuang dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam gerakan pramuka.

Dengan demikian bisa diprediksikan bahwa, seluruh nilai karakter bangsa tertuang jiwanya dalam DASA DARMA PRAMUKA dan semua nilai itu dapai dievaluasi dan diuji melalui Ujian Syarakat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarakat Kecakapan Khsusu (SKK) bagi semua peserta didik dalam semua tingkatan, sehingga sangat tidak berlebihan kalau Pendidikan dalam gerakan Pramuka dijadikan sebagai wahana paling ideal dalam penenaman Nilai Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa.

D. Pendidikan Nilai  Kakarakter Dan Budaya Bangsa di Sekolah

Hasil informasi dari berbagai Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter yang diselenggarakan di banyak wilayah menyatakan bahwa sudah cukup banyak sekolah yang berhasil mengembangkan pendidikan karakter dengan berbagai cara. Masing-masing sekolah memang punya ciri penekanan yang berbeda, namun semua sekolah punya kemiripan cara yaitu pendidikan karakter melalui pembiasaan kehidupan keseharian di sekolah dengan keteladanan guru dan disertai penanaman nilai-nilai kemuliaan hidup. Yang pasti Pendidikan Karakter memerlukan keteladanan dari pimpinan dan guru, sandaran nilai-nilai kemuliaan hidup sebagai acuan karakter, konsistensi pelaksanaan, dan tidak memerlukan sarana istimewa.

Sebagai upaya untuk meningkatkan keselarasan dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan  grand design  pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan.  Grand design  menjadi rujukan  konseptual  dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.

Pendidikan karakter harus masuk dalam setiap aspek kegiatan belajar-mengajar di ruang kelas, praktek keseharian di sekolah, dan terintegrasi dengan setiap kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, pecinta alam, olah raga, palang merah, dan karya tulis ilmiah. Setelah itu setiap siswa diharapkan mampu menerapkannya di rumah dan lingkungan sekitarnya. Semua aspek pendidikan mulai dari ruang kelas hingga lingkungan tempat tinggal harus tetap berkesinambungan dalam menjaga nilai-nilai pendidikan karakter.

Keselarasan dan kesatuan (holistis) antara olah pikir, olah hati, olah raga, dan olah rasa/karsa merupakan aspek penting dari pendidikan karakter. Olah pikir dan olah hati yang mencakup proses intrapersonal merupakan landasan untuk mewujudkan proses interpersonal berupa olah raga dan olah rasa/karsa. Guru dapat mentransformasikan logika berpikir dan laku spiritual kepada para murid dibarengi dengan pengawasan terhadap tingkah laku (amanah) dan jaringan sosial (tabligh) yang tengah dilakoni oleh mereka.

Pengembangan pendidikan karakter dapat menggunakan kurikulum berkarakter atau “Kurikulum Holistis Berbasis Karakter” (Characterbased Integrated Curriculum)  yang  merupakan kurikulum terpadu dan menyentuh semua aspek kebutuhan para siswa. Kurikulum ini memadukan semua aspek dari olah pikir, olah hati, olah raga, dan olah rasa/karsa.

Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.

Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik .

Integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.

Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di sekolah perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan dalam proses pembelajaran di kelas.

Untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik semuaa jenjang mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi  nilai-nilai karakter  dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.

Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh jenjang pendidikan di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasilmelaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.  Melalui program ini diharapkan lulusan Pendidikan formal memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia.

Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan salah satu tingkatan pendidikan  yaitu SMP, yang antara lain meliputi sebagai berikut:

  1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
  2.  Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
  3.  Menunjukkan sikap percaya diri;
  4.  Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
  5.  Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional;
  6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;
  7.  Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
  8.  Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
  9.  Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari;
  10.  Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
  11.  Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
  12.  Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
  13.  Menghargai karya seni dan budaya nasional;
  14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
  15.  Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
  16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
  17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan pendapat;
  18. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
  19.  Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
  20.  Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;
  21.  Memiliki jiwa kewirausahaan.

Dari kompetensi lulusan SMP diatas dapat disimpulka bahwa, sesungguhnya nilai Karakter dan Budaya Bangsa untuk terimplemntasi menjadi indikator yang harus dicapai dalam proses pembelajaran di SMP,  yang ahirnya nanti pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karkter adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.

 

E. Realitas Pendidikan di Lombok Timur Dalam Penanaman Nilai Pendidikan

     Karakter Dan Budaya Bangsa

Dari beberapa sumber dan setelah penyusun menelusuri dan mengkaji beberapa hal yang menyangkut implementasi penanaman nilai karakter dan budaya bangsa di sekolah hususnya dalam proses pembelajaran, ternyata ada beberapaa hal yang menjadi faktor pembatas yang sesungguhnya sangat penting kalau dilihat secara holistik, yaitu :

  1. Pembiasaan yang sudah terprogram di sekolah sangat tidak bisa menjamin akan menjadi karakter dan jiwa peserta didik, hal ini tidak ada rewod kepada peserta didik yang menjalankan pembiasaan dengan baik dan tidak ada penekanan secara kognitif dalam hubungannya dengan prestasi siswa dalam menjalankan pembiasaan. Artinya tidak ada standarisasi husus berupa instrumen evaluasi dalam mengukur tingkat kemajuan dan prestasi siswa dalam  melaksanakan pembiasaan penenaman nilai tersebut, sedangkan dalam gerakan pramuka setia peserta didik yang sudah menyelesaikan satu bagian dari system evaluasi baik Sku maupun SKK, maka peserta didik tersebut diberikan penghargaan langsung dengan cara resmi da didepan semua teman-temannya, sehingga rasa bangga dalam mencapai kompetensi yang di ukur dalam kegiatannya sebagai anggota pramuka sangan tinggi, dan nilai itu akan terpatri dalam jiwa peserta didik karena pembelajarannya didasarkan oleh penggilan jiwa dari peserta didik, dan sama sekali tidak dipaksakan.
  2. Dalam proses implementasi nilai dalam program pembelajaran, akan dibatasi dengan waktu yang tersedia, dan terkesan akan guru akan selalu terkejar target kurikulum, sehingga penanaman nilai dan karakter bangsa dalam semua mata pelajaran tidak bisa ditanamkan melalui proses permainan yang menyenangkan, karena bermain membutuhkan waktu dan tempat yang cukup. Yang paling naif adalah penanaman nilai dan karakter bangsa sudah dicanangka sejak beberapa tahun lalu, tapi faktaya siswa kelas XII SMA sangat jarang yang bisa hafal Lagu Kebangsa Indonensia Raya apalgi lagu-lagu wajib nasional yang lain, demikian juga siswa SMP atau SD, dari pengamatan yang kami lakukan selama menjadi guru dan pembina upacara di sekolah, hal ini disebabkan system evaluasi nilai karakter bangsa yang tidak jitu diterapkan dalam system pendidikan disekolah. Sedangkan dalam pendidikan kepramukaan lagu indonesia raya saja husu penilaiannya dalam Sku (Syarat Kecakapn Husus). setia jenjang pendidikan baik Siaga, Penggalang, Penagak dan pandnega, demikian juga dengan nilai budaya bangsa yang lain.
  3. Pendidikan formal kita memang sudah diarahkan untuk memenuhi kompetensi Kohnitif ,Afektif , dan Psikomotorik, tapi faktanya waktu tempat dan kondisi lapangan sangat menjadi faktor pembatas dalam menerapkan tiga system penilain tersebut, naifnya lagi yang menjadi  ukuran kecerdasan nilai dalam raport adalah nilai kognitif saja sedangkan yang lain sama sekali tidak menjai ukuran prestasi siswa, sangat disayangkan. Jadi system pendidikan kita sekarang ini tidak meperdulikan kecerdasan emosional dan spiritual yang diutamakan adalah nilai tertulis dalam raport dan ijazah, wajar kalau terjadi dekadensi moral secara universal di Indonesia. Sedangkan di pramuka system pembelajarannya yang menggunakan alam terbuka sangat memungkinkan untuk menanamkan nilai karakter dan budaya bangsa dengan berbagai bentuk permainan yang menantang dan menyenagkan yang dikenal dengan istilah Metode Kepramukaan dan Tekik Kepramukaan.
  4. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara NKRI sangat tidak menjadi penting lagi didepan siswa-siswi kita, faktanya untuk mengibarkan bendera merah putih saja mereka sangat asing  dan sepertinya tidak ada kebanggaan untuk mendapat kesempatan tersebut, berndera negara dianggap bakal biasa, kecuali menjadi peserta didik di Pramuka, sang merah putih sangat tidak asing bagi anggota Pramuka, karena setiap saat sang merah putih di ikatkan menjadi setangan leher (menjadi hasduk dileher), bagaima mungkin jiwa mempertahankan NKRI melalui pengibaran bendera akan pupus dalam diri peserta didiknya. Inilah sekelumit gambaran ideal pendidikan kepramukaan sebagai wahana handal dalam menanamkan nilai karakter dan busaya bangsa. Disamping itu dalam SKU yang menjadi kurikulum Pendidikan Ke-Pramukanan budaya bangsa sangat menjadi perhatian penting dalam mengukur tingkat pencapaian siswa dalam pendidikan Ke-rapmukaan.
  1. Dismaping realita diatas pencapain penanaman nilai karakter dan budaya bangsa yang diselenggarakan disekolah sangat terkait dengan segala macam sarana dan prasarana yang standar dan tertuang dalam standar pebiayaan pendidikan, hal inilah yang mungkin paling menjadi faktor pembatas pencapaian nilai karakter dan budaya bangsa tidak bisa dicapai dengan optimal di sekolah.

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN-SARAN

A. SIMPULAN

Dari beberapa kajian literasi diatas, kami dapat simpulkan kajian ini sebagai berikut :

  1. Penanaman Nilai Karakter dan Budaya Bangsa di Semua jenjang pendidikan formal hendaknya terus dikaji dan ditingkatkan strategi penanamannya sehingga mampu menaikkan derajat kebangsaan dan menigkatkan kualitas manusia indonesia setuuhnya. Strategi yang paling ideal yang sangat memungkinkan adalah melalui gerakan Pendidikan Ke-pramukaan.
  2. Pendidikan Ke-Pramukaan kami aggap paling ideal digunakan sebagai pendekatan penanaman nilai karakter dan Budaya bangsa karena, semua indikator yang termuat didalam nilai karakter bangsa merupakan pengamalan dan dijiwai dalam dasa Sarma Pramuka, sementara kompetensi dari Dasa Darma Pramuka tertuang jelas dalam Syarat Kecakapan Umum (SKU)  dan Syarakat Kecakapan Khusus (SKK) yang harus diujikan oleh eserta didik, dan mendapatkan penghargaan langsung dari hasil jerih payahnya. Disamping itu, dalam proses pembelajaran disekolah semua peserta didik yang masuk dalam kegiatan pendidikan kepramukaan memiliki perbedaan sikap yang relatif lebih bagus dan selalu terpilih dalam melaksanakan kegiatan diluar sekolah baik kegiatan sipatnya membutuhkan keberanian dan kemauan yang ihlas dalam menjalankan tugas dari sekolah, bila dibandingan dengan sswa yang tidak pernah aktif dalam pendidikan kepramukaan.
  3. Dengan demikian merupakan sebuah keniscayaan bagi kita untuk membuat pendidikan ke-pramukaan sebagai kegiatan wajib bagi semua siswa, bukan sebagai ketra kurikuler pilihan siswa, dan tentu dengan konsekuensi akan berpengruh besar dalam pencapain prestasi siswa dalm proses pembelajaran disekolah nanti. Hal ini mungkin kita mulai dari proses pembudayaan pakian Pramuka lengkap satu hari dalam satu minggu, sehingga ruh dari kepramukaan yang identik dengan jiwa sang merah putih yang terlingkar dileher akan sangat berpengaruh besar bagi jiwa patriotisme dan bangga menjadi warga negera bisa muncul dalam diri setiap siswa.
  1. SARAN-SARAN

Melalui kajian literasi sederhana ini kami mencoba memberikan beberapa masukan kepada pihak penentu kebijakan yaitu  :

  1. Pendidikan karakter tidak akan tercapai kepada siswa kalau wahana tidak sesuai dan dalam penyampainya (gurunya) belum tertanam nilai karakter tersebut, karena sesungguhnya pembentukan karakter itu bukan hanya setahun atau dua tahun tapi lima bahkan puluhan tahun bisa muncul karakter yang terbentuk dari proses pembelajaran, yang pada giliranyya nanti akan menjadi kebudayaan, sehingga merupakan sebuah keniscayaan jika semua guru dan kepala sekolah ditanamkan karakter dan budaya bangsa itu melalui pendidikan ke-pramukaan. Salah satunya melalui Kursus Pembina Pramuka.
  2. Pendidikan ke-pramukaan sangat penting dalam kondisi kehidupan bernegara saat ini sampai dikluarkannya UU No 12 Tahun 2010, merupakan manifestasi dari kebuthan yang sangat tinggi terhadap nilai yang tertanam dalam pendidikan ke-pramukaan sehingga merupakan sebuah keharusan bagi pemerintah untuk mewajibkan semua siswa dan personalia pendidikan untuk mengenal dan mengikuti pendidikan ke-pramukaan.
  3. Pakian seragam Warna coklat tidak lagi katakan sebagai seragam sekolah, tetapi langsung dibua sebagai seragam Pramuka dengan aturan dan bentuk yang sesuai dengan aturan Petunjuk Pelaksanaan dari Kwarnas Gerakan Pramuka, dengan demikian siswa tidak lagi membuat pakian seragam pramuka ulang sesuai petunjuk pelaksanaan dari Kwarnas gerakan pramuka, yang sementara ini pakiaj seragam coklat sama persis potongannya dengan pakaian seragam biru putih. Dengan keluarnya peraturan dari pemerintah bisa menjadi awal yang baik untuk memulai me-Pramukakan siswa dan Guru.

 DAFTAR PUSTAKA

Buku bahan pelatihan Pengembangan Budaya dan karakter bangsa- badan penelitian dan pengembangan kurikulum, kemendiknas

Buku panduan KML, Pusdiklatnas Kwrtir Nasional Gerakan Pramuka : Jakarta

http://www.m-edukasi.web.id/2012/04/pengembangan-pendidikan-budaya-dan.html

Gary A. Davis dan Margareth A. Thomas (1989) Effective Schools and  Effective Teachers.

Iman Hadi Purwono, S.Pd.2011,  http://elementary-education- schools.blogspot.com/2011/08/all-about-elementary-education-in.html

ISTE National Education Technology Standards for Teachers (USA).

Isjoni H , Drs.,M.Si , 2009 Cooperatif Learning, Alfabeta : Bandung

Kemndiknas (2010) Grand Design Pendidikan Karakter.

Luthans, F. (1995) Organizational Behavior, 7th Ed., McGraw-Hill International Edition.

Mortimore P. (1991)  School Effectiveness Research: Which way at the Crossroads.

School Effectiveness and School Improvement, Vol.2, No. 3, pp. 213-229.

UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas

UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

UU No. 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka

http://www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia

Penulis adalah Andalan Cabang Bidang LITBANG Kwarcab Lotim dan Ka.Bag. TU dan Keuangan PUSDIKLATCAB LOTIM.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s